Home » Article

Category Archives: Article

Post Categories

Calendar

December 2022
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Categories

Islam : Agamis Lawan dari Humoris?

Cover Artikel Jemmy #3

Islam : Agamis Lawan dari Humoris?

Oleh: Fathi Syauqy Azzam | Sabtu, 23/10/2021 17:15 WIB

Sobat Jemmy pasti mengenal dong Coki Pardede dan Tretan Muslim. Ya, mereka berdua adalah dua nama public figure yang lahir dari sebuah acara kompetisi komedi tanah air beberapa tahun belakangan ini. Selain mereka, tentu ada ratusan komedian yang juga sukses menjadi influencer di bidangnya masing-masing dengan tetap menjaga branding komedi yang mengangkat nama mereka. Kita sebut saja Bintang Emon sebagai aktor dan selebgram, Dzawin dengan YouTube-nya, bahkan Ernest Prakarsa dengan film-film karyanya. read more

Riset Tengah Tahun JMME 2021

Riset Tengah Tahun

Riset Tengah Tahun JMME 2021

Oleh: Islamic Learning and Development (ILD) | Selasa, 27/07/2021 20:05 WIB

Assalamualaikum sobat Jemmy!

Pada awal semester ini, JMME FEB UGM mengadakan “Riset Tengah Tahun” yang merujuk pada proses evaluasi Kabinet Al-Ikhwah selama satu semester ini.

Jika kalian merupakan Mahasiswa Muslim Aktif di FEB UGM, kami memohon kesediaan teman-teman untuk mengisi kuesioner di bawah ini selama 3-5 menit saja.

Selain menjadi tolak ukur kinerja kami, partisipasi teman-teman dalam riset ini akan menjadi penyemangat kami untuk terus berdakwah dalam lingkungan internal dan eksternal FEB UGM. read more

Islam dan Terorisme : Apakah Islam Mengajarkan Terorisme?

Artikel Jemmy 1 Cover

Islam dan Terorisme :
Apakah Islam Mengajarkan Terorisme?

Oleh: Hanif Ubaidillah | Sabtu, 05/06/2021 14:25 WIB

Beberapa bulan yang lalu, Indonesia sempat dikejutkan dengan terjadinya insiden bom bunuh diri di gerbang Gereja Katedral Makassar (28/3/2021). Diduga bahwa pelaku bom bunuh diri merupakan pasangan suami istri yang menjadi anggota dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang terlibat pada pengeboman di Filipina pada tahun 2019. Pelaku terlihat mengenakan celana cingkrang, bersorban, berjanggut panjang, sedangkan pelaku lainnya mengenakan cadar (niqab) serta pakaian panjang serba hitam. read more

Tinta Emas Cendekiawan Muslim terhadap Kemajuan Peradaban

cover-tinta-emas

Gambar/ilustrasi: Unsplash.com

Tinta Emas Cendekiawan Muslim terhadap Kemajuan Peradaban.

Saat ini di dalam masyarakat kita yang majemuk dapat dijumpai narasi pemikiran yang menganggap agama islam terlalu kaku, kolot, bahkan tidak sesuai kondisi yang terjadi di masa kini. Argumen tersebut biasanya dilatarbelakangi pemahaman terhadap sebagian umat muslim yang terlalu terpaku pada suatu persoalan seperti sebatas halal haram dan kurang mengkaji keragaman pemikiran terkait hal tersebut. Perilaku beberapa kaum muslimin juga dinilai mudah terprovokasi oleh sesuatu hal tanpa mencari lebih detail fakta yang terjadi sehingga umat yang besar ini masih mudah terpecah-belah (yang mungkin) menyerupai buih sesuai perkataan Rasulullah SAW. Sikap semacam ini yang menyebabkan munculnya stigma Islam yang kaku. read more

Mengenal Pacaran dan Kaitannya dalam Islam

cover Article Pacaran

Gambar/ilustrasi: Unsplash.com

Mengenal Pacaran dan Kaitannya dalam Islam.

 “Tidak aku tinggalkan di masa setelah aku nanti fitnah yang lebih membahayakan kaum lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari 5096, Muslim 2740)

Kini, ‘pacaran’ menjadi salah satu hal dengan eksistensi yang cukup mahsyur. Bukan lagi sebuah kosa kata asing di telinga penduduk bumi, melainkan telah menjelma sebagai kelaziman bagi manusia dari berbagai jenjang usia. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘pacar’ adalah ‘teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih; kasih’. Sedangkan ‘berpacaran’ yakni ‘bercintaan; berkasih-kasih.’ read more

Insecure, Tanda Kurang Bersyukur?

coverInsecure

Gambar/ilustrasi: Unsplash.com

Insecure, Tanda Kurang Bersyukur?

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’ ” – TQS. Ibrahim : 7

Acapkali ketika membuka social media, tanpa disadari membuat pikiran kita terpapah secara otomatis untuk  membanding-bandingkan diri kita dengan visualisasi kehidupan orang lain. Ilusinya, terlihat kehidupan mereka ‘lebih’ bahagia, sempurna, dan terlihat baik-baik saja. Hal ini cenderung membuat kita ingin mengubah diri menjadi seperti orang lain “baik-baik saja”. Sebagai manusia, tentu hal ini memicu timbulnya rasa tidak nyaman. read more

Berbahagialah Menjadi Pemuda yang Terasing

Berbahagialah Menjadi Pemuda yang TerasingAsing.Bukan pilihankata yang baik, cenderung tidak enak, ter-isolasi, penuh kebosanan, tak ada teman dan lain-lain, silahkan pikirkan kalimat selanjutnya untuk mendeskripsikan kata “asing” tersebut. Namun ada esensi lain dibalik kata “Asing” ini. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145).

Al Qadhi ‘Iyadh menyebutkan makna hadits di atas sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi,

أَنَّ الإِسْلام بَدَأَ فِي آحَاد مِنْ النَّاس وَقِلَّة ، ثُمَّ اِنْتَشَرَ وَظَهَرَ ، ثُمَّ سَيَلْحَقُهُ النَّقْص وَالإِخْلال ، حَتَّى لا يَبْقَى إِلا فِي آحَاد وَقِلَّة أَيْضًا كَمَا بَدَأَ

“Islam dimulai dari segelintir orang dari sedikitnya manusia. Lalu Islam menyebar dan menampakkan kebesarannya. Kemudian keadaannya akan surut. Sampai Islam berada di tengah keterasingan kembali, berada pada segelintir orang dari sedikitnya manusia pula sebagaimana awalanya. ” (Syarh Shahih Muslim, 2: 143)

Ketika engkau berjalan menuju masjid dengan percaya diri, sementara kawan-kawanmu bersuka ria di lorong-lorong kampus, pinggir jalan bersama pasangan-pasangan mereka

Ketika engkau datang ke sebuah pengajian ,menggali ilmu dan pemahaman , sementara teman-temanmu berbaur dalam suatu tempat mendengarkan musik-musik dan ngobrol tidak jelas

Ketika di antara wanita ada yang menutup aurat sempurna bahkan sampai mengenakan cadar, kian dikucilkan

Bahkan berakhlak jujur, ingin mengikuti ajaran sesuai tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan ingin menjauhi kesyirikan, sama halnya kian terasing

Itulah keterasingan Islam saat ini. Namun tak perlu khawatir, berbanggalah menjadi orang yang asing selama berada dalam kebenaran. Thuba lil ghurobaa

Berbahagialah kawan ketika kita termasuk dalam segelintir orang yang berada di jalan Allah itu. Janganlah takut memperjuangkan agama Allah yang kian lama kian padam. Menjadi obor dakwah ditengah miskinya pengamalan islam di akhir zaman ini. Walaupun kita sendirian, terasing, dikucilkan, dan jauh dari hiruk-pikuk duniawi, akan tetapi ingatlah kampung akhirat jauh lebih mulia dan pertolongan Allah jauh lebih dekat.

Wallahu a’lam

Sumber:

Berbahagialah Orang yang Terasing

Dicari Pemuda Kahfi!

Zakat, Infaq, dan Shadaqah mengurangi harta???

Setiap orang yang bekerja tentunya memiliki penghasilan. Ketika penghasilan tersebut digunakan untuk membeli barang atau membayar sesuatu maka pendapatan tersebut berkurang. Pada zaman sekarang, orang-orang cenderung konsumtif dan senang membelanjakan uangnya hanya untuk sekedar memuaskan nafsunya saja. Akan tetapi, kebanyakan orang merasa berat dan merasa sayang apabila megeluarkan atau menyisihan dari sebagian penghasilannya untuk zakat, infaq, atau shadaqah. Orang-orang yang hatinya merasa berat untuk mengeluarkan penghasilannya untuk zakat, infaq, atau shadaqah memiliki pemikiran bahwa hartanya akan berkurang dengan percuma apa bila digunakan untuk zakat, infaq, atau shadaqah.  Apakah benar harta kita atau penghasilan kita akan berkurang apabila kita sisihkan untuk zakat, infak, dan shadaqah??

Dalam HR. Muslim no. 2558, dari Abu Hurairah, Rasulullah saw besabda, “Sedekah tidaklah mengurangi harta”. Mungkin dalam segi kuantitas atau jumlah memang sekilas harta kita akan berkurang tetapi secara hakikatnya, keberkahan dan manfaat dari harta yang kita keluarkan untuk zakat, infaq, dan shadaqah akan terus bertambah. Allah bahkan telah menjanjikan pahala yang belipat-lipat bagi orang-orang yang mau menyedekahkan, menginfaqkan, dan membayar zakat.

Allah berfirman dalam Al-Quaran Surat  Saba’ ayat 39 yang artinya

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.”

Allah swt berfirman dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah:261 yang artinya ,

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Keutamaan Shadaqah, Infaq , dan Zakat

  1. Pahala berlipat ganda
  2. Tanda ketaqwaan
  3. Bekal menuju akhirat
  4. Perisai dari apai neraka
  5. Sadaqah penghapus kesalahan
  6. Pelindung di padang mahsyar
  7. Pemadam panas di alam kubur
  8. Mendapat doa dari malaikat
  9. Golongan yang Allah naungi di hari kiamat
  10. Zakat sebagai penyuci atau pmbersih diri
  11. Menolong orang yang sedang dalam kesulitan
  12. Penggerak perekonomian

Banyak sekali keutamaan dari bersedekah bahkan Allah memberikan janji bahwa Allah akan melipat gandakan pahala orang-orang yang suka bersedekah.

So, masih ragu buat sedekah?? Apa masih berpikir kalo sedekah itu mengurangi harta??Apakah bersedekah harus menunggu kita menjadi kaya terlebih dahulu??

Kita tidak harus menjadi orang kaya terlebih dahulu agar bisa bersedekah. Siapapun dapat bersedekah dan sedekah tidak harus dalam bentuk uang. Sedekah dapat kita lakukan dengan melakukan perbuatan yang baik.

Rasulullah Saw bersabda di hadapan para sahabat, “Setiap Muslim wajib bersedekah.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana bila ia tidak mempunyai apa-apa untuk disedekahkan?” Beliau Saw menjawab, “Hendaklah ia bekerja sehingga hasilnya dapat ia manfaatkan untuk dirinya dan dapat ia sedekahkan.” Sahabat kembali bertanya, “Bagaimana kalau ia tidak sanggup?” “Hendaklah ia membantu orang yang memerlukan bantuan,” jawab Beliau. (HR Bukhari).

Zakat, infaq, dan shadaqah harus dilandasi dengan rasa ikhlas. Apabila zakat ,infaq, dan shadaqah tidak dilandasi rasa ikhlas atau bahkan hanya di jadikan sebagai ajang untuk memamerkan kekayaan (ria) maka shadaqah, zakat, dan infaq yang dilakukan tidak akan ada artinya dan hanya kan menimbulkan masalah kecemburuan sosial. Oleh karena itu, mari kita bersedekah dengan penuh rasa ikhlas dan semata-mata hanya karena Allah.

Referensi:
rumaysho.com
majelis.zainalm.com
kabkuningan.baznas.go.id

[HALAL ADALAH AKAR PRASYARAT DARI SEMUA KEBAJIKAN]

Dari segala cara kita menjemput rizqi, maka halal adalah akar prasyarat dari semua kebajikan. ‘Abdullah ibn ‘Umar ra berkata, “Demi Allah, memastikan halalnya satu suapan ke mulutku, lebih aku sukai daripada bershadaqah seribu dinar.” (Salim A. Fillah, dalam lapis – lapis keberkahan)

Akan datang kepada manusia suatu zaman (ketika itu) seorang tidak lagi peduli dengan apa yang dia dapatkan, apakah dari yang halal atau haram?!” (HR. Bukhari: 2059)

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang (yang ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah.” (QS. Al Baqarah: 173)

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Maa’idah: 3)

Bukan tanpa alasan babi itu diharamkan. Beberapa hal yang menjadi alasan babi diharapkan adalah sebagai berikut :

1. Babi adalah hewan yang memiliki tingkat kerakusan yang tinggi. Segala macam makanan dapat dimakan oleh babi termasuk kotoran manusia atau hewan. Bahkan makanan yang telah dimuntahkan babi akan dimakan kembali saat seekor babi tersebut merasa lapar.

2. Dari sisi medis babi setidaknya memiliki 25 bibit penyakit yang terkandung di dalam tubuhnya. Antara lain adalah antraks, rabies, bahkan influenza, dapat ditularkan dari seekor babi. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipublikasikan pada tahun 1986 dalam konferensi tahunan sedunia tentang penyakit alat pencernaan, daging babi dinyatakan sebagai penyebab utama kanker anus dan kanker usus besar. Persentase penyakit ini sangat tinggi di negara-negara eropa dan amerika. Sementara di negara-negara islam persentasenya sangat rendah sekali yaitu hampir 1 : 1000 kasus.

3. Di dalam tubuh babi tidak hanya terdapat satu jenis cacing, tetapi tujuh jenis cacing yang berbahaya bagi tubuh. Salah satunya adalah cacing pita. Cacing pita adalah cacing yang tumbuh dan berkembang dengan menempel di dinding-dinding usus lalu memakan makanan yang di makan oleh tubuh yang menjadi parasitnya. Cacing pita yang hinggap pada ubbuh manusia dapat menyebabkan seseorang kekurangan darah dan mengalami histeria.

4. Secara anatomi, babi tidak mempunyai leher. sehingga babi tidak dapat disembelih. sementara islam telah mengajarkan tata cara menyembelih hewan, yaitu dengan mengucapkan “bismillahirrohmanirrohim” dan memotong di bagian urat nadi lehernya. penyembelihan dilakukan agar tidak terdapat kerusakan pada organ vital hewan yg disembelih. yang dapat mengakibatkan daging hewan tersebut termerah oleh gumpalan darah yang terdapat pada urat dalam tubuhnya.

5. Babi juga menjadi pembawa virus flu burung dan flu babi yang amat berbbahaya bagi manusia. Virus H1N1 yang sebelumnya tidak berbahaya ternyata bermutasi di dalam tubuh babi dan menjadi virus H5N1 yang sangat mematikan bagi manusia.

Tak heran mengapa Allah yang maha mengetahui segalanya mengharamkan memakan babi bahkan mengkategorikan babi sebagai najis mugoladoh/ najis besar, dan harus membersihkan sampai 7 kali dan salah satunya menggunakan tanah saat kita menyentuh babi.

Allah SWT menetapkan aturan bagi manusia bukan tanpa alasan.

Pengharaman daging babi bagi manusia bertujuan agar manusia terhindar dari berbagai macam penyakit yang terkandung dalam seekor babi. Semoga kita semua diselamatkan dari keburukan hewan babi ini. Aamiin.

Sumber :
– Al-Qur’an
– Al-hadist
– islam channel 01
– https://muslim.or.id/461-babi-haram.html

Departemen Kajian Keislaman
JMME FEB UGM

KEKAYAAN BUKAN PERTANDA KEMULIAAN, KEKURANGAN BUKAN PERTANDA KEHINAAN

Dijaman yang semakin keras seperti sekarang semakin susah untuk menemui manusia yang perduli dengan sesamanya. Kita semakin disibukkan dengan urusan pribadi hingga seakan dunia hanya milik sendiri. Semua orang berlomba-lomba untuk memperkaya diri sendiri. Namun, kenyataan tidak membuktikan semua manusia terlahir dikeluarga kaya, tidak semua orang sadar akan pentingnya kerja keras. Dan yang pasti semua itu bukan jaminan bahwa hidup seseorang akan berkecukupan di masa mendatang. Seperti sering kita jumpai orang yang memang terlihat tidak mampu secara finansial terus berjuang melalui anaknya. Seakan paham betul apa yang akan terjadi ketika anak mereka melakukan kesalahan yang sama seperti mereka di masa lalu. Anak ini akan terus ditempa hingga mereka berhasil dengan penghidupan yang lebih layak. Mereka akan terus mendorongnya hingga hidup dirasa kemapanan dan cukup. Menjadi orang yang berkecukupan juga bukan jaminan mereka akan melahirkan generasi kaya di masa depan atau bisa dibilang semua ini adalah ujian.

Menurut Ustadz Abu Minhal, Lc pada website almanhaj.or.id
Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Rabbku telah memuliakanku”. Adapun bila Rabbnya (Allâh) mengujinya, lalu membatasi rezekinya (menjadikannya hidup dalam kekurangan), maka dia berkata: “Rabbku menghinakanku” .Sekali-kali tidak (demikian), …[al-Fajr/89:15-16]

Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Rabbku telah memuliakanku.”

Pada ayat ini, Allâh Azza wa Jalla mengingkari manusia yang memiliki keyakinan jika diberi keluasan rezeki itu pertanda penganugerahan kemuliaan dari Allâh bagi dirinya. Faktanya, tidak demikian adanya. Akan tetapi, merupakan ujian dan cobaan bagi mereka dari Allâh Azza wa Jalla, [3] dan menguak apakah ia bersabar atau berkeluh-kesah, apakah ia bersyukur atau mengingkari nikmat.

[4] Hal ini seperti firman Allâh Azza wa Jalla :

Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar [al-Mukminûn/23:55-56]

Sebaliknya pada ayat berikutnya:

Adapun bila Rabbnya (Allâh) mengujinya, lalu membatasi rezekinya (menjadikannya hidup dalam kekurangan), maka dia berkata: “Rabbku menghinakanku” Tatkala Allâh Azza wa Jalla menguji manusia dengan menyempitkan rezekinya, sebagian orang beranggapan hal tersebut merupakan bentuk kehinaan yang harus ia terima. Imam al-Qurthubi rahimahullah menegaskan salah satu sifat orang kafir, “Kemuliaan dan kehinaan pada pandangan orang kafir berdasarkan banyak sedikitnya kekayaan yang dimiliki seseorang”.[5]
Allâh Azza wa Jalla tidak pernah menjadikan kekayaan dan kekurangan yang meliputi kondisi
seseorang sebagai bentuk penilaian kemuliaan atau kerendahan derajatnya di sisi Allâh Azza wa
Jalla . Namun, itu semua merupakan ujian dan cobaan yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada umat manusia yang tidak lepas dari takdir dan qodho-Nya.

Perhatikan firman Allâh Azza wa Jalla berikut:

Katakanlah: “Sesungguhnya Rabbku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan
menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. [Saba/34:36]
wahai teman, dari penjelasan di atas sedikit bisa disimpulkan bahwa menjadi kaya bukanlah segalanya, karena kemuliaan diri kita dihadapan Allah SWT tidak dilihat dari seberapa banyak harta yang kita miliki dari pemberianNya melainkan dari ibadah kita.

Sumber :
https://almanhaj.or.id/3309-kekayaaan-bukan-tanda-kemuliaan-kemiskinan-bukan-petunjuk-kehinaan.html