Eratkan Ukhuwah, Gembirakan Dakwah

Kabinet Ar-Ribath

Our Cabinet
JMME FEB UGM JMME FEB UGM

Gambar/ilustrasi: Unsplash.com

Insecure, Tanda Kurang Bersyukur?

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’ ” – TQS. Ibrahim : 7

Acapkali ketika membuka social media, tanpa disadari membuat pikiran kita terpapah secara otomatis untuk  membanding-bandingkan diri kita dengan visualisasi kehidupan orang lain. Ilusinya, terlihat kehidupan mereka ‘lebih’ bahagia, sempurna, dan terlihat baik-baik saja. Hal ini cenderung membuat kita ingin mengubah diri menjadi seperti orang lain “baik-baik saja”. Sebagai manusia, tentu hal ini memicu timbulnya rasa tidak nyaman.

Alih-alih menjadikan social media sebagai tempat berbagi momen, malah memunculkan perasaan negatif seperti tidak percaya diri, misalnya. Kondisi yang sudah lumrah ini disebut dengan insecure. Lantas, apakah hal ini muncul sebagai penyebab lantaran kurangnya rasa syukur?

Menggambarkan perasaan tidak aman, insecure membuat seseorang merasa gelisah, takut, malu, hingga tidak percaya diri. Sebenarnya, insecure merupakan hal yang wajar. Sayangnya, kondisi ini dapat mengganggu bila tidak diatasi dengan tepat. 

Ada beberapa hal yang menjadi faktor pemicu munculnya insecure, salah satunya adalah penggunaan social media yang terasa ‘toxic’. Terkadang, ada keinginan untuk memiliki sesuatu yang tidak ada di diri kita. Lebih parah lagi bila sampai merasa tidak cukup dengan yang dimiliki saat ini. Semua hal ini dapat menjadi beban pikiran dan berujung pada munculnya overthinking

Rasa insecure menjadi wajar bila dapat diperangi dengan baik. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan bersyukur. Lalu, bagaimana rasa syukur dapat berpengaruh dalam meminimalisasi insecure

Rasa Syukur: Pengendalian Diri dalam Menghadapi Insecure 

Sebagai seorang muslim, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk mengimani Allah SWT dan mengikuti perintahNya. Bersyukur adalah salah satu bentuk rasa terima kasih pada Allah SWT atas segala hal yang telah diberikan olehNya. Mulai hal sederhana, oksigen yang dihirup setiap detik menjadi salah satu hal yang patut disyukuri. 

Tidak dapat dipungkiri bahwa Allah telah menganugerahkan nikmat yang tak terkira begitu banyak. Sebagai hambaNya, bersyukur adalah hal yang sudah seharusnya kita lakukan. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Ibrahim ayat 7, Ia akan menambah nikmat hambaNya yang bersyukur. Sebaliknya, azab Allah SWT sangat pedih bila kita sebagai hamba mengingkari nikmatNya. 

Bila dikaitkan dengan insecure, rasa syukur menjadi kata kunci utama sebagai cara mengatasi kondisi ini. Dengan menerima segala yang telah Allah SWT berikan sebagai hal yang memang menjadi milik kita, rasa BM (re: banyak mau) yang muncul tatkala melihat postingan di IG dapat diatasi. Di samping itu, rasa syukur akan menekan perasaan negatif. Hal ini dapat tergantikan oleh positive thinking yang dapat mengatasi overthinking.

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk memperbanyak rasa syukur, salah satunya adalah mengingat pencapaian yang telah didapat selama ini. Kesehatan, kecukupan finansial, dan kebutuhan yang tercukupi menjadi beberapa dari sekian banyak nikmat dari Allah SWT. Kemampuan bertahan di kondisi yang terasa ‘berat’ serta keteguhan untuk tidak menyerah juga menjadi bentuk pertolongan Allah SWT yang perlu disyukuri. 

Mengucapkan bacaan tahmid, “Alhamdulillah“, ketika mendapat nikmat juga dapat dibiasakan sedini mungkin. Alhamdulillah memiliki makna berupa ungkapan rasa syukur atas nikmat dari Allah SWT. Selain itu, alih-alih hanya mengucapkannya, lafal ini juga harus dimaknai sebagai rasa terima kasih pada Allah SWT.

Tidak hanya lafal Alhamdulillah, lafal Masya allah juga dapat diucapkan sebagai bentuk syukur. Menurut kitab Tafsir Al Quranul Karim surah Alkahfi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menjelaskan bahwa kalimat “Masya Allah” memiliki dua makna. Pertama, hadzaa maa syaa Allah, yang berarti: “Inilah yang dikehendaki oleh Allah SWT” dan yang kedua, maa syaa Allahu kaana, yang berarti: “Apa yang dikehendaki oleh Allah SWT, maka itulah yang akan terjadi”. Pada dasarnya, Masya allah diartikan sebagai sesuatu (re: hal yang menakjubkan) yang dikehendaki Allah SWT. Artinya, kita menyadari dan menetapkan bahwa hal tersebut terjadi karena kuasa Allah SWT.

Ada kalanya kita merasa lelah dan mempertanyakan hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Padahal, disebutkan dalam potongan ayat 216 surah Alimran bahwa “boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu.” 

Ayat tersebut ditutup dengan kalimat Allah Maha Mengetahui, sedang kamu tidak (re: mengetahui). Oleh karena itu, penting untuk menyadari bahwa segala sesuatu sudah berjalan sesuai rencanaNya. Pastinya, rencana Allah SWT adalah yang paling baik bagi hambaNya. 

Selain rasa syukur yang harus terus dipupuk, mengistirahatkan diri dari media sosail dapat menjadi solusi mengatasi insecure. Hal ini karena seperti yang telah dibahas di awal, social media memegang peranan penting bagi munculnya insecure. Tidak hanya itu, mengalihkan diri pada kegiatan yang lebih bermanfaat dan bernilai positif juga bisa membuat lupa akan kehidupan orang lain. Memilih kegiatan yang membuat diri kita bahagia merupakan bentuk rasa syukur pada Allah SWT dan mengurangi rasa insecure juga.

Pada dasarnya, pilihan untuk tetap merasa insecure atau mengubahnya menjadi bersyukur itu tergantung masing-masing diri. Akan tetapi, jangan pernah lupa kalau rasa syukur itu harus selalu ditanamkan di setiap rentang kehidupan.  

Referensi:

https://muslim.or.id/21845-apa-arti-masya-allah.html

https://www.alodokter.com/sering-merasa-insecure-ini-cara-mengatasinya

https://www.cosmopolitan.co.id/article/read/10/2018/14834/penyebab-dan-cara-mengatasi-rasa-insecure

https://www.wikihow.com/Become-More-Grateful-to-Allah

https://yuksinau.co.id/arti-alhamdulillah/

 

Penulis : Araminta Dewati Nariswari

Editor : ApDeAg