Karier & Muslimah

0
39

wanita _ karirBismilahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum saudaraku yang dirahmati Allah SWT. Apa kabar teman-teman? Semoga rasa syukur selalu melingkupi hari-hari indahmu.
Kali ini mimin ingin sedikit membahas mengenai wanita karir, pasti sudah nggak asing lagi kan sama wanita karir, yup apalagi di era modern seperti sekarang, wanita karir merupakan hal yang lumrah. Sebelumnya adakah dari temen-temen yang nantinya ingin menjadi wanita karir? Mengapa memilih ingin menjadi wanita karir? Nah simpen jawaban masing-masing yaa, sekarang mimin mau mengupas dulu mengenai wanita karir dari pandangan islam, ya tentunya pembahasan kali ini akan berpegang pada firman Allah SWT dan hadist, jadi bukan dilandasi opini mimin sendiri ya hehe.

Bagaimana sih hukum seorang wanita mencari nafkah?
Pada dasarnya, wanita (perempuan), ia merupakan bagianmasyarakat yang dijamin kehidupannya sepanjang fase usianya. Baik ia sebagai anak, isteri, ibu atau saudara perempuan. Kaum lelaki dari keluarganyalah yang bertanggung jawab atas kehidupannya. Wanita tidak wajib untuk menanggung nafkah keluarga.

Bila wanita sudah berkeluarga, maka kebutuhan dan keperluan rumah serta anak-anaknya menjadi tanggung jawab sang suaminya. Ini merupakan salah satu bentuk penghormatan Islam terhadap kaum wanita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَآأَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Kaum lelaki itu adalah pemimpin kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (kaum lelaki) atas sebagian yang lain (kaum wanita), dan karena mereka (kaum lelaki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”. [an Nisaa`/4 : 34].

Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah, sudah menjadi Ijma’ ulama, ayah (suami)lah yang menafkahi anak-anak, tanpa dibarengi oleh ibu (isteri).[1]

Kesimpulannya, wanita dalam islam tidak diwajibkan untuk mencari nafkah.
Nah bagi temen-temen yang berkeinginan untuk memilih menjadi wanita karir tidak masalah, hanya saja alangkah baiknya dalam memilih suatu keputusan temen-temen tau apa tujuannya. Usahakan niatnya karena Allah dan kebaikan. Perhatikan juga mudharat dan manfaatnya, jangan sampai pilihan antum mengesampingkan hal yang wajib. Apakah niatnya hanya untuk memenuhi hasrat duniawi, untuk menunjang penampilan, mengejar jabatan/kedudukan dan hal-hal yang dirasa kurang penting dalam kehidupan, lebih baik luruskan niat dulu hehe. Utamakan kewajiban, boleh kok menjadi wanita karir, asal mampu. Misal niatnya untuk memberangkatkan orangtua ke tanah suci, agar bisa bersedekah kepada umat, untuk mengaktualisasi diri, menambah ilmu dan pengalaman, emansipasi, membantu suami meringankan beban keluarga, atau keadaan keluarga yang perlu dukungan sang wanita untuk mencari nafkah. Boleh. Asal lillahi ta’ala, karena semua hal yang diniatkan untuk kebaikan dan didasari karena Allah ta’ala dan mampu (batiniah dan lahiriah) InsyaAllah akan dipermudah jalannya oleh Sang Maha Kuasa. Namun perlu diingat juga, kewajiban jangan sampai ditinggalkan.

Demikian ulasan singkat mengenai wanita karir dari perspektif islam, semoga pembaca dapat mengambil hal positif dari uraian tersebut, salah dan kurang dari mimin selaku manusia, kalaulah ada lebihnya itu hanya dari Allah SWT.
Semoga kebermanfaatan berpihak pada kita.
Wassalamu’alaikum wr.wb

Sumber: https://almanhaj.or.id/2625-bolehkah-suami-memakan-gaji-isteri.html

Footnote :
[1]. Zaadul Ma’ad (5/448).
Gambar :
@kartun.muslimah (Instagram)

=============
#EdisiMenjadiMuslimahSejati #EdisiRabuKamis #JMME’sGoldenContent #JMMEMembumi #JMMESatuHatiMenginspirasi
=============

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here