Hasil Kajian Fiqih Muamalah, Riba, Tak Kenal Maka Tak Takut

0
5

kajian ribaKegiatan : Kajian Fiqh Muamalah
Waktu : Rabu, 20 April 2016
Tempat : Ruang B-235 FEB UGM
Pemateri : Ammi Nur Baits, S.T

“RIBA : TAK KENAL, MAKA TAK TAKUT”

Assalamu’alaikum wr wb
Riba berasal dari bahasa Arab, raba yang artinya tambahan. Menurut istilah, riba dapat diartikan sebagai tambahan dalam transaksi ekonomi yang dibebankan kepada salah satu pihak, tanpa adanya kontraprestasi dari pihak yang membebankan. Riba dilarang dalam 3 agama, yakni Islam (Q.S Ali Imran (3) : 130), Nasrani (Pb. Lukas : 34), dan Yahudi. Pelarangan ini dikarenakan adanya unsur ketidakadilan dan pendzaliman dalam riba. Pada zaman kepemimpinan Islam, riba sangat diperangi keberadaannya. Dikisahkan, Umar bin Khattab pernah mengusir pedagang yang tidak paham fiqh muamalah dari pasar. Pengusiran tersebut dimaksudkan agar pihak-pihak yang terlibat dalam jual-beli tidak terjerumus dalam transaksi yang mengandung riba.

Secara umum, riba dapat dikategorikan menjadi tiga jenis. Jenis yang pertama adalah riba dain. Riba dain merupakan tambahan yang dibenbankan karena debitur tidak dapat melunasi utangnya pada saat jatuh tempo (sesuai kesepakatan awal dengan kreditur). Jenis riba ini dapat dicontohkan melalui dua tipe kasus. Kasus yang pertama, A utang ke B. Pada saat jatuh tempo pembayaran utang, B belum bisa melunasinya. Akhirnya, A meminta B untung membayar utang dengan jumlah yang lebih besar dari yang dipinjam B, sebagai ganti atas pelunasan utang yang tidak tepat waktu. Kasus yang kedua, A utang ke B. Pada saat jatuh tempo pembayaran utang, B belum bisa melunasinya. A lalu meminta B untung membayar utang dengan jumlah yang lebih besar dari yang dipinjam B. A juga memberi perpanjangan waktu pelunasan utang. Kedua tipe kasus riba dain tersebut sering terjadi pada zaman Jahiliyah. Lalu, bagaimana dengan kasus riba dain pada era masa kini? Saat ini, masyarakat akan berbondong-bondong ke bank untuk mencari pinjaman. Bank (pada awal akad) sudah menentukan tingkat bunga (tambahan) yang harus dibayar oleh debitur saat meminjam uang. Dari kasus-kasus tersebut, dapat disimpulkan bahwa riba pada masa kini lebih ‘kejam’ dari riba pada zaman Jahiliyah.

Jenis riba yang kedua adalah riba fadhl. Riba fadhl adalah tambahan yang dibebankan karena adanya perbedaan kuantitas pada benda ribawi. Misal, 1 kg kurma kualitas bagus ditukar dengan 2 kg kurma yang kualitasnya lebih buruk. Jenis riba yang terakhir adalah riba nasiah, yakni tambahan yang dibebankan karena adanya penangguhan penyerahan barang. Untuk lebih memahami jenis riba fadhl dan nasiah, akan dibahas aturan-aturan dalam jual-beli benda ribawi. Namun sebelumnya, kita perlu mengetahui benda apa saja yang termasuk benda ribawi?
Benda ribawi yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu:
1. Semua jenis mata uang, seperti emas dan perak,
2. Semua bahan makanan yang dapat disimpan, seperti gandum kasar, gandum halus, kurma, dan garam.
Aturan dalam melakukan jual-beli benda-benda tersebut antara lain:
1. Jual-beli benda sejenis
Benda sejenis yang dimaksud adalah benda dengan ‘spesies’ yang sama. Misal, emas dengan emas, perak dengan perak, kurma dengan kurma, dsb. Dalam jual-beli benda sejenis, berlaku aturan wajib sama dan tunai. Contoh : jika kita membeli kurma 1 kg, maka kita juga harus membayarnya dengan kurma 1 kg, secara tunai.
2. Jual-beli benda satu kelompok
Contoh benda satu kelompok adalah emas dengan perak atau kurma dengan gandum. Dalam jual beli benda satu kelompok, berlaku aturan wajib tunai. Contoh : jika kita membeli emas, maka harus dibayar dengan uang secara tunai. Menurut aturan ini, jual-beli emas secara online tidak diperbolehkan, karena penjual dan pembeli tidak bertemu langsung (tidak tunai-bayar dulu, baru dapat barang).
3. Jual-beli benda beda kelompok
Dalam jual-beli benda beda kelompok, para pihak yang bertransaksi dibebaskan dalam menentukan kuantitas barang maupun cara pembayaran barang yang diperjual-belikan.

Perlu dipahami bahwa aturan-aturan tersebut hanya berlaku saat melakukan jual-beli, namun tidak berlaku saat utang-piutang. Perbedaan keduanya terletak pada orientasi transaksi, jika utang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan, sementara jual-beli berorientasi pada profit. Dalam jual-beli, debitur berkesempatan untuk memilih kualitas barang, namun tidak pada transaksi utang-piutang.

Pada intinya, semua tambahan yang dibebankan dengan tanpa adanya imbalan/penyeimbang merupakan riba. Agama Islam sama sekali tidak menoleransi adanya riba. Sekalipun dengan alasan pembayaran pinjaman tanpa tambahan (riba) akan merugikan kreditur karena adanya kemungkinan inflasi di masa depan. Inflasi pun pernah terjadi pada masa kepemimpinan Rasulullah SAW, namun Rasulullah tetap teguh untuk memerangi riba. Beliau tetap memberlakukan pengembalian pinjaman sesuai dengan jumlah yang dipinjam, meski nilai uang saat pengembalian lebih rendah dari nilai uang saat peminjaman. Oleh karenanya, Rasulullah menasehati para kreditur untuk meniatkan perbuatannya (memberi pinjaman) sebagai tindakan sosial. Tindakan sosial bisa saja merugikan manusia jika dihitung dengan rumus ilmu dunia, namun sebaliknya, itu bisa menjadi sebuah keuntungan yang besar menurut hitungan rumus ilmu akhirat.
Wallahualam bisshawab
Wassalamu’alaikum wr wb

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here